Minggu, 04 Desember 2011

makalah biodata dan biografhi sang maestro indonesia dan mancanegara


Biod

 BIODATA DAN BIOGRAFI SANG MASTRO INDONESIA   
1.   AFFANDI KOESOEMA
Affandi Koesoema (Cirebon, Jawa Barat, 1907 – 23 Mei 1990) putra dari dari istri kedua R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon. Beliau bersekolah AMS, SLTA zaman Belanda. Affandi  adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia, mungkin pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionisnya yang khas.
Affandi adalah seorang seniman otodidak. Dari 1951-1956 ia melakukan perjalanan dan mengadakan pameran di seluruh India, Inggris, Belanda Belgia, Perancis, dan Italia, kemudian dia mengajar seni lukis patung di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI, Indonesian Academy of Fine Arts) di Yogyakarta, Jawa Tengah.
Bagi orang-orang segenerasinya, memperoleh pendidikan HIS, MULO, dan selanjutnya tamat dari AMS, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri.Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental telah menjadikan namanya tenar Sejak kecil, Beliau gemar menggambar yang sepertinya merupakan keturunan dari ayahnya yang seorang juru gambar peta di perkebunan tebu.
Beliau sangat gemar sekali menggambar wayang. Affandi sangat mengagumi Sukasrana, tokoh wayang berwujud raksasa berwajah buruk, namun memiliki loyalitas penuh terhadap Sumantri, kakaknya.Affandi pernah mengalami wabah penyakit cacar. Bahkan, empat saudaranya meninggal akibat wabah itu. Bersama enam anak Koesoemah lain, ia dibaringkan di atas daun pisang supaya panasnya turun. Affandi memang selamat, tapi bekasnya membekas diwajahnya.
Pada umur 26 tahun, pada tahun , Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran . Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis,
Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Affandi juga termasuk pimpinan pusat  (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.Pada tahun enampuluhan, gerakan anti imperialis AS sedang mengagresi  cukup gencar. Juga anti kebudayaan AS yang disebut sebagai 'kebudayaan imperialis'. Film-film Amerika, diboikot di negeri ini.
Affandy menikahi seorang wanita bernama Maryati. Pada tahun 1934 mereka dikaruniai anak peremuan yang diberi nama Kartika.Pasca kelahiran Kartika, anak pertama Affandi, hidup Affandi mengalami masa-masa sulit. Kemudian Beliau pindah ke Bandung, Beliau berkenalan dengan pelukis-pelukis lain. Beliau tidak menyukai lukisan pemandang yang sedang tren dan lebih memilih lukisan dengan suara batin dan kemanusiaan. Itulah yang mengakibatkan lukisannya hampir tidak pernah laku terjual. Ia kemudian menjadi tukang poster di Bioskop Elite, bandung.
Tapi, Affandi terus melukis. Muncul harapan ketika orang mulai tertarik membeli hasil karyanya. Waktu itu di Kebun Raya Bandung diadakan bazar dan pameran lukisan. Salah satu lukisan Affandi dibeli oleh Sjafei Soemardja, lulusan Sekolah Tinggi Lukis Amsterdam, Belanda. Affandi sendiri malah heran mengapa Sjafei mau membeli lukisannya. Sjafei hanya menjawab, “Di dalamnya saya melihat masa depan. Teruslah melukis, jangan berhenti, dan jangan berputus asa”.
Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih mengutamakan kebebasan berekspresi. Dilandasi jiwa kerakyatan, Affandi tertarik dengan tema kehidupan masyarakat kecil. Teknik melukis bentuk bahkan yang cenderung memperindah obyeknya seperti yang dilakukan angkatan Moi India atau India Jelita, dirasakan Affandi tidak mewakili kondisi masyarakat dengan kemelaratan akibat penjajahan.
  Affandi terus menuai keberuntungan. Pada zaman pendudukan Jepang, Affandi sampai menggunakan lukisannya sebagai media kritik. Tahun 1944, Jepang memesan sebuah poster kepada pendatang baru yang sedang naik daun ini.
Ketika Jepang kalah, Affandi dan keluarganya pindah ke Yogyakarta. Affandi mendirikan Seniman Masyarakat. Pada 1946 lahir lukisan Affandi yang bersejarah dengan judul Merdeka Atau Mati – melukiskan Laskar Rakyat yang sedang rapat di malam hari.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, Affandi juga pernah berkolaborasi dengan Chairil Anwar (yang membikin teks nya) dalam poster perjuangan Boeng, ajo Boeng. Poster patriotik ini melukiskan seorang lelaki mengacungkan kedua tangannya ke atas untuk memutuskan rantai yang membelenggunya. Latar belakangnya adalah bendera Merah Putih.
Beliau pun berkelana di beberapa negara-negara Dunia. Dan akhirnya Beliau mendapat pengakuan dunia dan beberapa penghargaan internasional. Tahun 1954, Affandi pulang ke indonesia. Meski sempat ditolak Akademi Seni Rupa, perjalanannya telah menorehkan namanya dalam komunitas terhormat.



·      Affandi di mata dunia
Affandi memang hanyalah salah satu pelukis besar Indonesia bersama pelukis besar lainnya seperti , Basuki Abdullah dan lain-lain. Namun karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya sampai menganugerahinya berbagai sebutan dan julukan membanggakan antara lain seperti julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia bahkan julukan Maestro. Adalah Koran International  yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di ,  dia telah diberi gelar Grand Maestro.
Berbagai penghargaan dan hadiah bagaikan membanjiri perjalanan hidup dari pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini. Di antaranya, pada tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia pun mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia.
Dari dalam negeri sendiri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah diterimanya, di antaranya, penghargaan "Bintang Jasa Utama" yang dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978. Dan sejak 1986 ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di . Bahkan seorang Penyair Angkatan 45 sebesar Chairil Anwar pun pernah menghadiahkannya sebuah sajak yang khusus untuknya yang berjudul "Kepada Pelukis Affandi".
Cita-cita beliau melukis di luar negeri akhirnya terwujud pada tahun 1949. Di India dia mendapat kejutan. Bukannya diterima untuk belajar, ia dinilai justru lebih pantas menjadi pengajar. Tetapi, ia menolak. Uang beasiswanya digunakan untuk berkeliling India dan melukis. Selama bekarya di India, subjek gambarannya merangkum kemiskinan yang ada di Negara itu. Beberapa lukisannya kemudian menjadi koleksi Museum Madras dan Museum Tagore.
India juga memberikan sesuatu yang baru bagi Affandi. Di Negeri ini Affandi menemukan tehnik “pelototan”, yaitu melukis tanpa memakai kuas. Affandi hanya memelotot cat dari tube, dengan menggunakan tangan serta jarinya, untuk melukis. Teknik baru itu semakin menambah cita rasa ekspresionisnya.
Sepulang dari India pada tahun lima puluhan, Affandi dicalonkan untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dan terpilihlah dia, seperti Prof. Ir. untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya katanya Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur.
Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.Topik yang diangkat Affandi adalah tentang perikebinatangan, bukan perikemanusiaan dan dianggap sebagai lelucon pada waktu itu.
Lalu apa topik yang diangkat Affandi? "Kita bicara tentang Perikemanusiaan, lalu bagaimana tentang Perikebinatangan?" demikianlah dia memulai orasinya. Tentu saja yang mendengar semua tertawa ger-geran. Affandi bukan orang humanis biasa. Pelukis yang suka pakai sarung, juga ketika dipanggil ke istana semasa Suharto masih berkuasa dulu, intuisinya sangat tajam. Meskipun hidup di jaman teknologi yang sering diidentikkan jaman modern itu, dia masih sangat dekat dengan fauna, flora dan alam semesta ini. Ketika Affandi mempersoalkan 'Perikebinatangan' tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup masih sangat rendah.

Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan. Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan agresor itu. Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: "Pak Affandi memang pimpinan Lekra, tapi dia tak bisa membedakan antara Lekra dengan Lepra!" kata teman itu dengan kalem.
Untuk menghargai karya-karya besarnya, berbagai lembaga atau yayasan juga berusaha mengabadikan kenang-kenangan pelukis besar ini. Pada tahun 1976, Prix International Dag Hammerskjoeld telah menerbitkan sebuah buku kenang-kenangan tentang “Affandi”. Buku setebal 189 halaman lebih itu diterbitkan dalam 4 bahasa, yaitu dalam bahasa Inggris, Belanda, Perancis, dan Indonesia. Demikian juga Penerbitan Yayasan Kanisius, telah menerbitkan sebuah buku tentang Affandi karya Nugraha Sumaatmadja pada tahun 1975.

Begitu pula dalam rangka memperingati 70 tahun Affandi pada tahun 1978, Dewan Kesenian Jakarta pun menerbitkan buku “Affandi 70 Tahun” susunan Ajip Rosidi, Zaini, Sudarmadji. Dan dalam rangka memperingati 80 tahun Affandi di tahun 1987, Yayasan Bina Lestari Budaya Jakarta, menerbitkan sebuah buku tentang “Affandi”. Buku yang disusun oleh Raka Sumichan dan Umar Kayam setebal 222 halaman lebih itu diterbitkan dalam dua bahasa yakni bahasa Inggris dan Indonesia.

Dalam perjalanannya berkarya, Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.
Pelukis yang kesukaannya makan nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim. Orang-orang lain bila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti; Arjuna, Gatutkaca, Bima atau Werkudara, Kresna. Namun, Affandi memilih Sokasrana yang wajahnya jelek namun sangat sakti. Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh dari wajah yang tampan.
Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan self-portrait Affandi tahun 1974, saat Affandi masih begitu getol dan produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong Yogyakarta.
Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali, Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran . Tapi ketika itu justru Affandi balik bertanya, Aliran apa itu?.
Bahkan hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar.
Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh. Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.
Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan enteng, dia menjawab, Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan. Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai tukang gambar.
Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis, ucapnya.
Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. ''Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis,'' ucapnya.

Dari segi produktifitas, Affandi termasuk pelukis yang cukup produktif. Menurut Affandi sendiri, dia telah melukis lebih dari 2.000 buah lukisan dan sekitar 300 buah lukisan koleksi pribadinya kini disimpan di Museum Affandi, Jogyakarta. Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya.

Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dikuburkan tidak jauh dari Museum yang didirikannya itu.

Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai kesejarahan mulai dari awal karirnya hingga selesai, sehingga tidak dijual. Sedangkan galeri II adalah lukisan teman-teman Affandi baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik, dan lain-lain. Adapun galeri III berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.

Di dalam galeri III yang selesai dibangun tahun 1997, saat ini terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada tahun 1999. Lukisan itu antara lain "Apa yang Harus Kuperbuat" (Januari 99), "Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi" (Februari 99), "Tidak Adil" (Juni 99), "Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan KepadaNya" (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan Maryati, Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi.
Karya karya Affandi :
  
  
  
  
Dan masih banyak lagi karya Affandi lainnya !!

Profil Lengkap
 Affandi (1907-1990)


Maestro Seni Lukis Indonesia

Nama                                   :        Affandi
Lahir                                    :        Cirebon, 1907
Meninggal                           :        Mei 1990
Agama                               :        Islam
Istri                                     :        - Maryati (isteri pertama)
                                                    - Rubiyem (isteri kedua)
Anak                                   :        - Kartika Affandi
                                                       - Juki Affandi BSc
                                                       - Rukmini (adik tiri)
Pendidikan                          :        - H.I.S
                                                                   - M.U.L.O
                                                       - A.M.S
Profesi                                :        -Pelukis
                                                      - Pengajar seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia                                      (ASRI),Yogyakarta, Jateng
Aliran                                     :       Ekspresionisme atau abstrak

Penghargaan yang diterima : Piagam Anugerah Seni (Indonesia, 1969), doktor kehormatan (University of Singapore, 1974), Dag Hammarskjoeld, International Peace Prize (Florence, Italia, 1997), Bintang Jasa Utama (Indonesia, 1978). Koleksi: East-West Center (Honolulu, Hawaii). Pameran: Museum of Modern Art (Rio de Janeiro, Brazil, 1966), East-West Center (Honolulu, 1988), Festival Indonesia (USA, 1990-1992), Gate Foundation (Amsterdam, Belanda, 1993), Singapore Art Museum (1994), Centre for Strategic dan International Studies (Jakarta, 1996) Indonesia-Jepang Friendship Festival (Morioka, Tokyo, 1997), ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998).


Museum:

Museum Affandi, Jl. Adisucipto, Yogyakarta
Museum Van Gogh di Belanda atau Museum Ad Reinhardt di Amerika Serikat, mungkin hanya sebagian kecil museum yang di abadikan oleh pemerintah setempat guna mengenang jasa-jasa maestro lukis tersebut bagi dunia.
Berbeda dengan Museum Affandi, museum yang terletak di Jalan Laksda Adi Sucipto 167 Yogyakarta tersebut didirikan secara mandiri oleh pihak keluarga. Tanpa ada bantuan dari pemerintah sedikitpun, meski Affandi adalah salah satu maestro lukis tanah air yang sudah mendunia.



2.  BASOEKI ABDULLAH

  Basoeki Abdullah lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 25 Januari 1915  dan meninggal 5 November 1993 pada umur 78 tahun adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia.Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari berbagai penjuru dunia.

  Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya Abdullah Suryosubro yang juga seorang pelukis dan penari. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basoeki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.

   Adapun Basoeki Abdullah memang tak pernah melihat wajah sang ayah. Namun setelah dewasa Abdullah yunior ini bertekad melanjutkan garis karya ayahnya. Dia menyelesaikan studinya di sekolah Katolik Solo untuk kemudian melanjutkan pendidikan seni lukisnya di Academic Voor Beldeende Kunsten sebagaimana mendiang ayahnya. Sebagai penganut mazhab Hindia Molek, dia bertindak lebih maju.
   Pendidikan formal Basoeki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik di Solo. Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basoeki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda, dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA).
   Basoeki Abdullah rajin menggelar pameran lukisan di berbagai kota besar di Jawa dengan menampilkan karya-karya potret, pemandangan alam dan lukisan binatang. Jadi, dia pelukis pertama sesudah Raden Saleh yang mampu melukis manusia. Tampak diantara indication lukisan potretnya adalah Gusti Nurul dari Istana Mangkunegaran, Surakarta dan Sri Paku Alam dari Yogyakarta.
Aktivitasnya
Lukisan "Kakak dan Adik" karya Basoeki Abdullah (1978). Kini disimpan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Pada masa Pemerintahan Jepang, Basoeki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basoeki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basoeki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basoeki Resobawo.
Di masa revolusi Bosoeki Abdullah tidak berada di tanah air yang sampai sekarang belum jelas apa yang melatarbelakangi hal tersebut. Jelasnya pada tanggal 6 September 1948 bertempat di Belanda Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Yuliana dimana diadakan sayembara melukis, Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar menjadi seorang juara.
Lukisan "Balinese Beauty" karya Basoeki Abdullah yang terjual di tempat pelelangan Christie's di Singapura pada tahun 1996.
Sejak itu pula dunia mulai mengenal Basoeki Abdullah, putera Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia. Selama di negeri Belanda Basoeki Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni lukis dengan menjelajahi Italia dan Perancis dimana banyak bermukim para pelukis dengan reputasi dunia.
Basoeki Abdullah terkenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan kepala negara yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, diapun melukis pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.
Basoeki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand), Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basoeki Abdullah. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka dan sejak tahun 1974 Basoeki Abdullah menetap di Jakarta.
Kehidupan Pribadi
Basoeki Abdullah selain seorang pelukis juga pandai menari dan sering tampil dengan tarian wayang orang sebagai Rahwana atau Hanoman. Ia tidak hanya menguasai soal kewayangan, budaya Jawa di mana ia berasal tetapi juga menggemari komposisi-kompasisi Franz Schubert, Beethoven dan Paganini, dengan demikian wawasannya sebagai seniman luas dan tidak Jawasentris.
Basoeki Abdullah menikah empat kali. Istri pertamanya Yoshepin (orang Belanda) tetapi kemudian berpisah, mempunyai anak bernama Saraswati. Kemudian menikah lagi dengan Maya Michel (berpisah) dan So Mwang Noi (berpisah pula). Terakhir menikah dengan Nataya Narerat sampai akhir hayatnya dan mempunyai anak Cicilia Sidhawati
Basoeki Abdullah tewas dibunuh perampok di rumah kediamannya pada tanggal 5 November 1993. Jenasahnya dimakamkan di Desa Melati, Sleman, Yogyakarta.






3. Sindudarsono Sudjojono

      

Sindudarsono Sudjojono (1913-1985) Tokoh seni lukis Indonesia bernama lengkap Sindudarsono Sudjojono, lahir di Kisaran, Sumatera Timur, 1913 dan meninggal di Jakarta 25 Maret 1986. Pelukis terkemuka, salah seorang pendiri Persagi (1937). Pendidikannya di tempuh di Kweekschool Goenoengsari Bandung dan Sekolah Guru Taman Siswa Belajar melukis pada pelukis Mooi Indie, seperti Mas Pringadie; kemudian pada seorang pelukis Jepang Chioyi Yasaki, yang singgah di Jakarta dalam perjalanannya mengelilingi dunia awal 1930-an, untuk melukis pemandangan kota-kota besar seluruh dunia dalam media pastel. Bahkan ketika dekat dengan Bataviasche Kunstkring (lembaga lingkaran seni milik seniman-seniman Belanda) ia sempat belajar dengan Jan Frank. Banyak berdiskusi dengan kritikus (dan pelukis) Henry van Velthuysen serta penulis-peneliti Nyonya De Loos-Haaxman. Dalam sejumlah pengakuan, ia sangat dipengaruhi oleh lukisan- lukisan cantik pelukis Belanda, Jan Sluijter.
Sudjojono adalah tokoh yang keras dan pemberani. Selain sebagai pelukis, dia juga kritikus seni lukis berlidah tajam. Dia pionir yang mengembangkan seni lukis modern khas Indonesia. Pantas saja komunitas seniman, menjuluki pria bernama lengkap Sindudarsono Sudjojono yang akrab dipanggil Pak Djon iini dijuluki Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. Dia salah seorang pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) di Jakarta tahun 1937 yang merupakan awal sejarah seni rupa modern di Indonesia. Pak Djon  kerap mengecam Basoeki Abdullah sebagai tokoh tidak nasionalistis, karena hanya melukis perempuan cantik dan pemandangan alam. Kritik Pak Djon itu tentu saja membuat berang Basoeki.
Pak Djon dan Basoeki kemudian dianggap sebagai musuh bebuyutan, bagai atmosphere dan api, sejak 1935. Namun di luar itu, Pak Djon yang memang memulai karirnya sebagai seorang guru sekolah menengah dianggap pionir yang mengembangkan seni lukis complicated khas Indonesia. Pengikut dan muridnya banyak, sehingga komunitas seniman, menjulukinya sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.
Pak Djon lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa, buruh perkebunan di Kisaran, Sumatera Utara. Namun sejak usia empat tahun, ia menjadi anak asuh. Yudhokusumo, seorang guru HIS, tempat Djon kecil sekolah, melihat kecerdasan dan bakatnya dan mengangkatnya sebagai anak. Yudhokusumo, kemudian membawanya ke Batavia pada 1925. Djon menamatkan HIS di Jakarta. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman Siswa di Yogyakarta. Dia joke sempat kursus montir sebelum belajar melukis pada RM Pirngadi selama beberapa bulan dan pelukis Jepang Chioji Yazaki di Jakarta.
Bahkan sebenarnya sedari awal dia lebih mempersiapkan diri menjadi guru para calon pelukis. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta, ia ditugaskan Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Madiun pada 1931. Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis complicated Eropa, itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis profesional.
Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa, itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis.Pada tahun 1937, dia ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Batavia. (Jakarta). Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai awal yang mempopulerkan namanya sebagai pelukis. Setelah itu, bersama pelukis Agus Djaja, Abdulsalam, Rameli, dan beberapa pelukis yang bekerja untuk bidang reklame di percetakan, dia mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Usia Persagi tidak panjang. Dibentuk 23 Oktober 1938 di salah satu Sekolah Dasar Jakarta di Gang Kaji dan bubar karena dipaksa Jepang pada 1942.
Di Persagi, Pak Djon menjadi Sekretaris dan sekaligus Juru Bicaranya. Diangkat sebagai Ketua adalah Agus Djaja dengan anggota-anggota L Setijoso, Rameli, Abdulsalam, S Sudiardjo, Saptarita Latif, H Hutagalung, S Tutur, Sindusisworo, T.B. Ateng Rusy’an, Syuaib Sastradiwirja, Sukirno dan Surono. Pelukis Wakidi di Padang dan Hendrodjasmoro di Yogyakarta merupakan anggota di luar Jakarta.
Semboyan ekstrim Persagi adalah : Teknik tidak penting. Yang penting isi jiwa ini tumpahkan di atas kanvas !
Lukisan Sudjojono punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang staggering antara lain berjudul : Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Go Meh, Pengungsi dan Seko.
Sudjojono, selain piawai melukis, juga banyak menulis dan berceramah tentang pengembangan seni lukis modern. Dia menganjurkan dan menyebarkan gagasan, pandangan dan sikap tentang lukisan, pelukis dan peranan seni dalam masyarakat dalam banyak tulisannya. Maka, komunitas pelukis pun memberinya predikat: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru..
Dalam komunitas seni-budaya, kemudian Djon masuk Lekra, lalu masuk PKI. Dia sempat terpilih mewakili partai itu di parlemen. Namun pada 1957, ia membelot. Salah satu alasannya, bahwa buat dia eksistensi Tuhan itu positif, sedangkan PKI belum bisa memberikan jawaban positif atas hal itu. Di samping ada alasan lain yang tidak diungkapkannya yang juga diduga menjadi penyebab Djon menceraikan istri pertamanya, Mia Bustam. Lalu dia menikah lagi dengan penyanyi seriosa, Rose Pandanwangi. Nama isterinya ini lalu diabadikannya dalam nama Sanggar Pandanwangi. Dari pernikahannya dia dianugerahi 14 anak.
Di tengah kesibukannya, dia rajin berolah raga. Bahkan pada masa mudanya, Djon tergabung dalam kesebelasan Indonesia Muda, sebagai kiri luar, bersama Maladi (bekas menteri penerangan dan olah raga) sebagai kiper dan Pelukis Rusli kanan luar.
Itulah Djon yang sejak 1958 hidup sepenuhnya dari lukisan. Dia juga tidak sungkan menerima pesanan, sebagai suatu cara profesional dan halal untuk mendapat uang. Pesanan itu, juga sekaligus merupakan kesempatan latihan membuat bentuk, warna dan komposisi.
Ada beberapa karya pesanan yang dibanggakannya. Di antaranya, pesanan pesanan Gubernur DKI, yang melukiskan adegan pertempuran Sultan Agung melawan Jan Pieterszoon Coen, 1973. Lukisan ini berukuran 300310 meter, ini dipajang di Museum DKI Fatahillah.
Secara profesional, penerima Anugerah Seni tahun 1970, ini sangat menikmati kepopulerannya sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karyanya diminati banyak orang dengan harga yang sangat tinggi di biro-biro lelang luar negeri. Bahkan setelah dia meninggal pada tanggal 25 Maret 1985 di Jakarta, karya-karyanya masih dipamerkan di beberapa tempat, antara lain di: Festival of Indonesia (USA, 1990-1992); Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993); Singapore Art Museum (1994); Center for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996); ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998).
Tapi beberapa bulan sebelum Pak Djon meninggal di Jakarta, 25 Maret 1985, pengusaha Ciputra mempertemukan Pak Djon dan Basuki bersama Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Sehingga Menteri P&K Fuad Hassan, ketika itu, menyebut pameran bersama ketiga raksasa seni lukis itu merupakan peristiwa sejarah yang penting.
        Salah satu karya Sindudarsono Sudjojono :
karya sang maestro yang berjudul gerak baru
BIODATA DAN BIOGRAFI SANG MAESTRO MANCANEGARA

1.  VINCENT WILLIEM VAN GOGH
Vincent Willem van Gogh lahir pada 30 Maret 1853 di Groot-Zundert, sebuah desa dekat dengan Breda di propinsi Brabant Utara di selatan Belanda, di wilayah mayoritas Katolik. Vincent Williem Van Gogh adalah pelukis pasca-impresionis Belanda. Lukisan-lukisan dan gambar-gambarnya termasuk karya seni yang terbaik, paling terkenal, dan paling mahal di dunia. Van Gogh dianggap sebagai salah satu pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa. Ia adalah anak tertua dari Theodorus van Gogh, seorang pendeta dari Gereja Reformed Belanda, dan Anna Cornelia Carbentus. Vincent diberi nama kakeknya, dan dari lahir mati kakak persis satu tahun sebelum kelahirannya. Praktek menggunakan kembali nama itu tidak biasa. Vincent adalah nama yang umum di keluarga Van Gogh: kakeknya, Vincent (1789-1874), telah menerima gelar sarjana teologi di Universitas Leiden pada tahun 1811. Kakek Vincent memiliki enam anak, tiga di antaranya menjadi dealer seni, termasuk Vincent lain yang dimaksud dalam surat-surat Van Gogh sebagai "Cent Paman". Kakek Vincent mungkin telah diberi nama pada gilirannya setelah paman ayahnya sendiri, pematung sukses Vincent van Gogh (1729-1802). Seni dan agama adalah dua pekerjaan yang keluarga Van Gogh tertarik. Saudaranya Theodorus (Theo) lahir pada tanggal 1 Mei 1857. Dia seorang saudara, Kor, dan tiga saudara: Elisabeth, Anna dan Willemina (Wil). hitam dan putih foto headshot formal artis sebagai seorang anak di jas dan dasi. Dia memiliki rambut keriting tebal dan sangat pucat mata berwarna dengan ekspresi, waspada gelisah.
Sebagai seorang anak, Vincent serius, diam dan merenung. Dia hadir di sekolah desa Zundert dari 1860, di mana guru Katolik tunggal diajarkan sekitar 200 siswa. Dari 1861, ia dan adiknya Anna diajarkan di rumah dengan pengasuh, sampai 1 Oktober, 1864 ketika ia pergi ke sekolah asrama Jan Provily di Zevenbergen sekitar 20 mil (32 km) jauhnya. Dia tertekan untuk meninggalkan rumah keluarganya saat ia teringat kemudian sebagai orang dewasa. Pada tanggal 15 September 1866, ia pergi ke sekolah menengah baru, Willem II College Tilburg. Constantijn C. Huysmans, seorang seniman yang sukses di Paris, van Gogh diajarkan untuk menggambar di sekolah dan menganjurkan pendekatan sistematis untuk subjek. Vincent minat dalam seni mulai pada usia dini. Dia mulai menggambar sebagai anak dan terus membuat gambar sepanjang tahun menuju kepada keputusan untuk menjadi seniman. Meskipun dicapai dan ekspresif, gambar awal tidak mendekati intensitas yang ia kembangkan di kemudian bekerja Pada bulan Maret 1868,. Van Gogh tiba-tiba meninggalkan sekolah dan pulang.
Pada bulan Juli 1869, Cent pamannya membantunya mendapatkan posisi dengan pedagang seni Goupil & Cie di Den Haag. Setelah pelatihan, pada bulan Juni 1873, Goupil ditransfer ke London, di mana ia diajukan pada 87 Hackford Road, Brixton, dan bekerja di Goupil Tuan & Co, 17 Southampton Street Ini adalah saat yang menyenangkan untuk Vincent. Dia berhasil di tempat kerja dan, pada 20, penghasilan lebih dari ayahnya. Istri Theo kemudian mengatakan bahwa ini adalah tahun terindah dalam hidup Vincent. Dia jatuh cinta dengan putri induk semangnya, Eugenie Loyer, tapi ketika akhirnya dia mengakui perasaannya, putri induk tersebut menolaknya, dan diam-diam ia mengatakan bahwa ia sudah  bertunangan dengan mantan indekos. Dia menjadi semakin terisolasi dan kuat tentang agama, ayahnya dan pamannya diatur baginya untuk ditransfer ke Paris, di mana ia menjadi benci pada bagaimana seni diperlakukan sebagai komoditas, sebuah fakta jelas kepada pelanggan. Pada tanggal 1 April 1876, Goupil dihentikan kerjanya.

Van Gogh kembali ke Inggris untuk bekerja tanpa dibayar sebagai guru pasokan di sebuah pesantren kecil yang menghadap pelabuhan di Ramsgate, di mana ia membuat sketsa dari pandangan. Ketika pemilik sekolah dipindahkan ke Isleworth, Middlesex, van Gogh dipindahkan dengan dia, mengambil kereta ke Richmond dan sisa perjalanan dengan berjalan kaki
Pengaturan ini tidak berhasil dan dia meninggalkan untuk menjadi asisten pendeta Methodis , setelah keinginannya untuk "memberitakan Injil di mana-mana." Pada hari Natal, ia kembali ke rumah dan menemukan pekerjaan di sebuah toko buku di Dordrecht selama enam bulan. Dia tidak senang dalam posisi baru dan menghabiskan banyak waktunya baik mencoret-coret atau menerjemahkan ayat-ayat dari Alkitab ke dalam bahasa Inggris, Perancis dan Jerman. Teman sekamarnya pada waktu itu, seorang guru muda bernama Görlitz, ingat bahwa van Gogh makan hemat , dan lebih memilih untuk tidak makan daging.
Semangat keagamaan Van Gogh tumbuh sampai ia merasa telah menemukan panggilan jiwanya yang sejati. Untuk mendukung usahanya untuk menjadi seorang pendeta keluarganya mengirimnya ke Amsterdam untuk belajar teologi Mei 1877, di mana ia tinggal bersama pamannya Jan van Gogh, seorang Laksamana Wakil laut. Vincent siap untuk ujian masuk dengan nya paman Yohanes Stricker, seorang teolog dihormati yang menerbitkan "Kehidupan Yesus" yang pertama di Belanda. Van Gogh yang gagal ujian, dan meninggalkan rumah pamannya Jan pada bulan Juli 1878. Dia kemudian melakukan, tapi gagal, kursus tiga bulan di Opleidingsschool Vlaamsche, sebuah sekolah misionaris Protestan di Laeken, dekat Brussels.
foto rumah bata bertingkat dua di sebelah kiri setengah tertutup oleh pohon-pohon dengan halaman depan dan dengan deretan pohon di kanan
Rumah tempat tinggal di Van Gogh Cuesmes pada tahun 1880, sedangkan tinggal di sini ia memutuskan untuk menjadi seorang seniman.

Mulanya karya-karyanya menggunakan warna-warna yang suram. Baru ketika di Paris ia berjumpa dengan impresionisme dan neo-impresionisme yang warna-warnanya yang lebih cerah dan gaya lukisannya dikembangkannya menjadi sebuah gaya yang unik dan mudah dikenali. Gaya lukisannya ini mencapai tingkat perkembangannya yang penuh ketika ia tinggal di Arles, Perancis. Sejak November 1881 sampai dengan Juli 1890, Vincent Van Gogh telah menghasilkan lebih dari 900 lukisan. Pada Desember 1881, saat usianya beranjak 28 tahun ia menghasilkan lukisan pertamanya dan langsung menuliskan pesan untuk saudaranya theo mengenai bagaimana menjadi seorang pelukis, “Theo, saya sangat menyukai peralatan lukis saya, dan saya pikir saya akan mendapatkannya sekarang setelah melukiskannya di akhir tahun nanti, maka lebih baik jika saya memulainya secepatnya.
Van gogh bekerja di faveris pace untuk mendapatkan uang. Karena mental dan fisiknya tidak kuat dan tidak bisa meninggalkan sedikit waktu untuk dirinya sendiri (ketika ia dituntut untuk terus bekerja), maka pada maret 1882, beliau mengirim kan surat lagi untuk saudaranya theo, “Saya tahu bahwa saya memiliki kesulitan finansial pada diri saya, tetapi saya tau bahwa tidak ada yang tidak mungkin yang berhubungan dengan handicraft dan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan satu tangan ini. Jika Anda menjadi seorang pelukis, satu hal yang harus kamu tahu bahwa melukis dan segalanya akan sedikit berhubungan dengan kemampuan fisik Anda dalam bekerja. Tinggalkan hal yang berbau dengan mental, kesulitan dalam berpikir, ini akan menjadikan fisik Anda terganggu dan akan terus begitu setiap harinya.”
Dalam suratnya yang sama pada tahun 1882, van gogh menuliskan “ada 2 hal yang harus dipikirkan mengenai seni lukis, bagaimana untuk tidak melakukannya dan bagaimana untuk bisa melakukannya. Bagaimana untuk bisa melukiskan banyak lukisan hanya dengan sedikit warna. Dan bagaimana untuk tidak melukiskannya dengan banyak warna tetapi Anda hanya melukiskannya sedikit.
Van gogh percaya bahwa untuk menjadi pelukis yang baik Anda harus menguasai teknik menggambar sebelum menambahkan warna. Bertahun-tahun van gogh berusaha untuk bisa menguasai hal tersebut barulah ia memulai untuk menggunakan beragam warna. Saat itu, satu dari beragam aspek yang digunakan oleh lukisan van gogh berhubungan dengan pemakaian warna yang tebal.
Van Gogh awalnya mengikuti tipikal pelukis di zamannya dengan gaya impresionisme. Namun ketidakpuasan terhadap pengekangan ekspresi seni oleh pakem impresionisme membuat ia beralih pada gaya ekspresionisme. Namun ia akhirnya menghabiskan sisa hidup di R.S. Jiwa Saint Paul-de-Mausole di Saint-Rémy-de-Provence, Perancis karena divonis dokter mengidap epilepsi. Vincent Van gogh didiagnosa menderita epilepsi yang cukup parah. Diagnosa ini dibuat oleh 2 orang dokter berbeda yang merawatnya. Van Gogh juga pernah memotong telinganya sendiri. Walaupun dalam goncangan kejiwaan ia masih tetap menghasilkan karya sampai meninggal pada usia 37 tahun. Salah satu karyanya yang terkenal adalah bunga-bunga iris.
Bunga-bunga Iris merupakan satu dari sekian karyanya ketika ia berada di R.S. Jiwa Saint Paul-de-Mausole di Saint-Rémy-de-Provence, Perancis pada saat-saat terakhir menjelang kematiannya tahun 1890. Lukisan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh lukisan kayu Jepang, seperti kebanyakan karyanya yang lain. Ia menyebut lukisan tersebut “konduktor petir untuk penyakitku” karena ia merasa dapat mencegahnya dari kegilaan dengan tetap meneruskan melukis. Van Gogh menganggap lukisan ini sebagai sebuah lukisan persiapan (sketsa atau lukisan dasar dengan garis-garis bayang yang dipersiapkan sang pelukis untuk mencoba-coba mencari bentuk gambar yang hendak ia lukis kemudian). Saudaranya Theo mendaftarkannya ke pameran bernama Salon des Indépendants pada September 1889. Ia lalu menulis pesan kepada Vincent mengenai Bunga-bunga Iris: “Lukisan tersebut menjadi perhatian dari jauh. Bunga-bunga Iris adalah lukisan yang cantik, penuh dengan perasaan dan kehidupan.
” Pemilik pertamany adalah Octave Mirbeau, seorang kritikus seni Perancis, yang menjadi salah satu pendukung pertama Van Gogh. Tahun 1987, lukisan tersebut menjadi lukisan yang termahal yang pernah dijual. Walaupun rekor tersebut kemudian dilewati, lukisan tersebut dijual seharga AUS$54.000.000 kepada Alan Bond. Pemiliknya sekarang adalah Museum Getty di Los Angeles.

Lukisan-lukisan karya Van Gogh
·                  (1885) Pemakan kentang
·                  (1888) Kamar tidur di Arles
·                  (1888) Teras kafe di malam hari
·                  (1888) Kebun anggur merah
·                  (1888) Kafe malam
·                  (1889) Malam berbintang
·                   (1889) Jambangan dengan 12 bunga matahari
·                  (1889) Portrait de l'artiste sans barbe +
·                  (1890) Potret Dr. Gachet +
·                  (1890) Ladang gandum dengan burung gagak
·                  (1890) Perempuan petani dengan latar belakang gandum
+ Merupakan lukisan yang mencapai rekor nilai penjualan tertinggi
Dan masih banyak lagi!!..
Malam berbintang
·       (Inggris) Van Gogh Museum Amsterdam
·      (Polandia) Art Gallery - Vincent van Gogh


Beberapa tahun sebelum kematiannya, van gogh memprediksikan bahwa siapapun orang yang bisa mengetahui bagaimana cara menggunakan warna pada lukisannya sebagaimana orang lain tidak bisa melakukannya, maka ia akan menjadi pelukis ternama di masa depan. Beliau mengekspresikan hal itu pada suratnya yang dikirimkan ke saudaranya theo pada mei 1888.
Tetapi saya yakin saya benar kali ini mengenai generasi selanjutnya, dan ini bagaimana kami melakukan segalanya yang kami bisa tanpa bertanya ataupun komplain.
Selama sisa hidupnya van gogh tidak pernah menjadi seorang pelukis ternama dan tidak pernah menyangka untuk bisa menjalani hidupnya sebagai seorang pelukis. Van gogh hanya menjual sebuah lukisannya selama hidupnya The Red Vineyard. Lukisan ini terjual di Brusels sebesar 400 Francs hanya beberapa bulan sebelum beliau meninggal.
Vincent Van Gogh meninggal ketika beliau berusia 37 tahun dan membawa karirnya sebagai pelukis hingga akhir, tetapi beliau adalah orang pertama yang menjadi pelukis terbaik untuk masa depan yang bisa menginspirasikan para pelukis dunia hingga saat ini.
Beberapa minggu setelah kematiannya, Saudara kandungnya theo meniliskan surat ke saudara perempuannya Elizabeth mengenai kemampuan Van Gogh sebagai pelukis yang baik.
“Di surat terakhir yang beliau tuliskan ke saya yang kira-kira 4 hari sebelum beliau meninggal, beliau berkata “Saya mencoba untuk menjadi pelukis yang baik dengan memiliki perasaan cinta dan pendirian yang baik pada diri saya.” Orang-orang yakin bahwa ia adalah pelukis yang baik, sesuatu yang ia lakukan lebih baik daripada sesuatu yang orang biasa bisa lakukan. Di saat ini, hal ini meyakinkan saya bahwa ia adalah orang yang terhormat hingga saat dia meninggal.”
Kategori: Kelahiran 1853 | Kematian 1890 | Meninggal usia 37 | Pelukis Belanda Tokoh yang bunuh diriSejak November 1881 sampai dengan Juli 1890, Vincent Van Gogh telah menghasilkan lebih dari 900 lukisan. Sejak kematiannya, beliau masih menjadi salah satu seorang pelukis ternama di dunia. Lukisan van Gogh memiliki telah merebut hati para pecinta lukisan dan membuat dunia baru dalam dunia seni lukis untuk para pecinta lukisannya. Hal itu tercantum di setiap deskripsi lukisan yang telah ia buat sebagai seorang pelukis. Hal tersebut berhubungan langsung dengan hasil karya beliau seperti starry night, sunflower, irises, poppies, dan the potato eaters.















2.  LEONARDO DA VINCI
      
Leonardo lahir pada tahun 1452 di kota Vinci, propinsi Firenze, Italia anak dari Ser Piero Da Vinci dan Caterina, jadi nama lengkapnya yaitu Leonardo di Ser Piero da Vinci yang berarti Leonardo putra Ser Piero asal kota Vinci.
Siapa yang tak kenal dengan Leonardo davinci, seorang ilmuwan dan pelukis yang termasyur didunia yang terkenal dengan salah satu lukisan yang paling mahal dan fenomenal yang pernah ada didunia. Konon dalam menciptakan lukisannya leonardo sering mencantumkan identitas dirinya yang sengaja atau tidak disengaja di bubuhi atau di cantumkan dalam lukisannya atau dalam temuaannya.

Leonardo da Vinci (15 April 1452 – 2 Mei 1519) adalah arsitek, musisi, penulis, pematung, dan pelukis Renaisans Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe "manusia renaisans" dan sebagai jenius universal. Leonardo terkenal karena lukisannya yang piawai, seperti Jamuan Terakhir dan Mona Lisa. Ia juga dikenal karena mendesain banyak ciptaan yang mengantisipasi teknologi modern tetapi jarang dibuat semasa hidupnya, sebagai contoh ide-idenya tentang tank dan mobil yang dituangkannya lewat gambar-gambar dwiwarna.Selain itu, ia juga turut memajukan ilmu anatomi, astronomi, dan teknik sipil bahkan juga kuliner.
Beberapa ciri tersebut dapat berupa goresan-goresan tertentu yang merupakan simbol atau kode yang menerangkan bahwa ini adalah hasil karya sang maestro. selain goresan atau simbol-simbol tertentu leonardopun sering meninggalkan jejak berupa sidik jari yang dibubuhi dalam lukisannya. Sangat mengagumkan sekali pada jamannya pemikiran sang maestro lebih maju beberapa abad ke depan karena pada jaman dimana sang maestro hidup teknologi koddan simbol masih sangat terbatas apalagi teknologi



Pada tahun 1476 tertuduh dengan kasus homoseksual dengan seorang model laki-laki berusia belasan tahun yang bernama Jacopo Saltarelli. Sehingga beberapa tahun itu Leonardo selalu berada di bawah pengawasan yang berwenang.
Pada usia belia, beliau sudah belajar melukis dengan Andrea del Verrocchio dan mulai melukis di Firenze.Ada kabar mengisahkan Verrochio menyatakan pensiun melukis setelah menyaksikan bahwa lukisan muridnya yang satu ini lebih bagus dari lukisannya sendiri. Selain menjadi pelukis Leonardo juga sanggup menunjukkan kemampuannya di bidang yang lain. Pada tahun 1481 Leonardo pindah ke Milan untuk bekerja dengan Adipati(Duke) di sana.Hasil karyanya selama di Milan yang paling termashur adalah Kuda Sforza yang dikerjakannya selama kurang lebih 11 tahun. Namun di situ ia tidak hanya melukis dan membuat patung saja, melainkan juga mengubah jalan-jalan sungai dan membangun kanal-kanal, serta menghibur Duke dengan memainkan lut dan bernyanyi. Lalu ia bekerja untuk Raja Louis XII dari Perancis di Milan dan untuk Paus Leo X di Roma

Sementara itu ia membantu Raphael dan Michaelangeo dalam merancang katedral Santo Petrus.Dalam hidupnya Leonardo sangat tertarik pada ilmu pengetahuan. Ia mulai mempelajari burung terbang dan mulai merancang mesin terbang. Pemikirannya itu terdapat dalam buku catatanya sebanyak 7.000 halaman. Didalam buku itu juga terdapat sketsa tentang studi tubuh manusia. Pada zaman itu, anatomi tubuh manusia tak lebih dari sekadar kira-kira karena siapapun dilarang keras membedah jenazah. Dengan kenekatannya mencuri-curi kesempatan membedah-bedah tubuh orang mati, di kemudian hari tindakan yang tak lazim di zamannya ini memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia kedokteran.

Mahakaryanya, Jamuan Terakhir(The Last Supper) pada tahun 1495 sampai tahun 1497 yang dilukis pada dinding biara Santa Maria di Milan, kini telah rusak akibat dimakan waktu. Lukisan terkenal lainnya adalah Mona Lisa yang kini terdapat di musium Louvre Paris. Sebuah spekulasi yang beredar tentang siapa sesungguhnya Mona Lisa antara lain menyatakan bahwa citra perempuan tersebut merupakan hasil rekaan wajah Da Vinci sendiri. Spekulasi yang lain menyatakan bahwa perempuan tersebut memang pernah ada, seorang istri pedagang.
Setelah wafatnya, sangat kuat ditengarai bahwa beliau pernah memegang peranan sebagai orang terkuat di sebuah organisasi rahasia bernama Priory of Sion yang berlaskarkan Knights Templar. Apakah organisasi rahasia ini? Banyak fakta mengarahkan pada suatu dugaan bahwa Priory of Sion merupakan sebuah organisasi yang menjaga ketat-ketat rahasia sejarah kristiani menurut versi yang berbeda dari kitab Injil yang beredar di masyarakat. Yang dirahasiakan adalah mengenai siapa mesias yang sesungguhnya dan kemungkinan Yesus tidak menjalankan hukum selibat. Dalam versi yang sempat menimbulkan kontroversi ini diyakini bahwa Mesias yang sesungguhnya adalah Santo Yohanes Pembaptis, hal tersebut tersirat dari kekerapan Da Vinci melukis Sang Santo dalam posisi telunjuk menuding ke atas sebagai simbolisasi 'Putra Allah'.
Kegeniusan Leonardo terlihat dari banyaknya bidang yang ia kuasai. Ia adalah pelukis, pematung, penemu, peneliti, ahli per­me­sin­an, ahli anatomi, matematika, ahli tumbuh-tumbuhan dan binatang, optik, aerodinamik, bahkan pemusik handal. Ia belajar tanpa ada batasnya. Tentu saja ini tidak berat karena ia tidak bekerja keras, ia hanya “bersenang-senang”. Untuk melukis manusia, ia secara khusus mem­pelajari anatomi tubuh manusia.
          

Leonardo mungkin adalah pem­belajar paling gila. Saat mempelajari anatomi, ia suka pergi malam-malam, membongkar kuburan, dan mengambil mayat orang tidak dikenal yang sudah hampir busuk dan mem­bedahnya. Kadang ia melakukannya di rumah sakit yang memberinya izin. Ia benar-benar ingin tahu mengapa tubuh manusia berbentuk seperti itu. Dengan begitu, ia bisa makin detail dalam membuat lukisannya.

“I have offended God and mankind
because my work didn’t reach the quality it should have.”
Leonardo da Vinci


BAGAIMANA CARA MENCIPTAKAN SEBUAH MASTERPIECE ?

Leonardo tidak ingin membuat sebuah karya, tetapi ia ingin menciptakan sebuah Mahakarya, A Masterpiece. Sebuah karya seni dengan komposisi warna-warni yang begitu indah dengan detail yang nyaris sempurna seperti aslinya, sehingga semua yang melihatnya akan terpesona dan tersentuh hatinya. Tapi itu bukan yang utama..
Karyanya adalah persembahannya yang setinggi-tingginya kepada Tuhan. Leonardo ingin membuat karya yang begitu indahnya, sehingga bahkan Tuhanpun akan senang hati melihatnya. Sepanjang hidupnya tidak kurang 30 mayat yang ia bedah dan pelajari. Memang menjijikkan, tetapi jijik pun sebenarnya bukan masalah yang besar dan penting diban­ding­kan keagungan karyanya dan juga kemajuan ilmu anatomi manusia.

Sejak kecil, ia suka membaca di perpustakaan milik ayahnya di Florence. Saat dewasa, Leonardo mampu memiliki perpustakaan sendiri dengan banyak koleksi buku termasuk dari Dante dan Petrarch. Subjeknya juga beragam mulai dari matematika, anatomi, pengobatan, hingga buku-buku tentang peperangan. Dari sana pengetahuannya jadi makin luas dan tajam. Leonardo juga seorang visioner. Ia misalnya telah membayangkan mesin terbang seperti helikopter, kendaraan dengan pelindung besi (seperti tank), atau kapal yang bisa bergerak di bawah laut. Ia bahkan mendesain manusia mekanik yang dikenal sebagai Robot Leonardo, rancangan “robot” yang sering dianggap robot pertama dalam sejarah.

Akan tetapi, karya terbesarnya tentu saja adalah Monalisa. Lukisan wanita cantik ini merupakan puncak dari segala ilmunya tentang pewarnaan, cahaya, perspektif, dan—tidak lupa—anatomi tubuh manusia.
Pada lukisan itu, ia menggunakan teknik melukis yang sangat tinggi dan sulit ditiru, sfumato, sebuah teknik yang membuat lukisan terlihat seperti berkabut, tidak fokus, dengan transisi antar-warna yang luar biasa lembut dan halus. Monalisa terlihat begitu hidup, bahkan senyumannya pun mengundang penasaran dari semua orang yang melihatnya hingga sekarang.


Mengapa Monalisa tersenyum? Mengapa ia terlihat begitu bahagia?
Para ilmuwan telah menemukan misteri lain dari lukisan Mona Lisa yaitu dengan menentukan bagaimana Leonardo Da Vinci melukis kulitnya dengan sempurna.
Dengan menggunakan teknik X-ray, tim "mengupas" lapisan lukisan yang terkenal itu untuk melihat bagaimana master pelukis Italia itu lulus membuatnya sehingga hampir tidak kelihatan perubahan warna dari terang ke gelap.

Teknik yang digunakan oleh Da Vinci dan beberapa pelukis Renaisans lainnya untuk mencapai kehalusan ini disebut "Sfumato," dengan penguraian seperti itu memungkinkan para ilmuwan untuk menentukan komposisi dan ketebalan lapisan cat.

Philippe Walter, seorang ilmuwan senior di du Laboratoire , Paris Centre de halus et de Restorasi des Musees de France, mengatakan kepada CNN: "Ini akan membantu kita untuk memahami bagaimana Da Vinci membuat bahan lukisannya dan perbandingan campuran minyak yang dicampur dengan pigmen, sifat dari bahan organik, yang akan membantu para sejarawan seni. "

Walter dan rekan-rekannya menggunakan X-ray fluorescence (XRF) spektrometri untuk menentukan komposisi dan ketebalan setiap lapisan cat dari lukisan Mona Lisa di Museum Louvre di Paris, lukisan yang dilindungi oleh antipeluru itu. Seni sejarawan percaya lukisan itu dilukis oleh Da Vinci di tahun 1503.

Mereka menemukan ada beberapa lapisan tipis, satu atau dua mikrometer dan bahwa peningkatan ketebalan lapisan untuk 3-40 mikrometer di bagian-bagian yang lebih gelap dari lukisan itu. mikrometer adalah 1 / 1000 dari satu milimeter.

Hal ini menandai adanya satu teknik lukisan yang menggunakan lapisan es, memiliki lapisan yang sangat tipis , untuk membangun bayangan di wajah.

Cara Da Vinci melukis tubuhnya, "transisi melunak nya," adalah pekerjaan perintis di Italia pada akhir abad ke-15, mengatakan para peneliti, dan dikaitkan dengan kreativitas dan penelitian untuk memperoleh formulasi cat baru.

Walter mengatakan "hampir tidak sapuan kuas pada lukisan Mona Lisa yang kelihatan."

Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Angewandte Chemie, juga melihat beberapa lukisan Da Vinci lainnya dan akhirnya dapat membantu untuk menentukan kapan dan bagaimana ia melukis beberapa karya nya.

Namun, Walter, menambahkan: "Masih banyak misteri seputar Mona Lisa ini yang tidak kami mengerti mengapa ia melukis, tentang motivasinya, hanya tentang materi.."

Virgin of the Rocks

Pemugaran lukisan berjudul "Virgin of the Rocks" berhasil mengungkapkan detail-detail yang selama ini sulit untuk dilihat secara kasat mata. Pemugaran itu juga menunjukkan bahwa lukisan tersebut dibuat sendiri oleh sang maestro, Leonardo da Vinci, tanpa bantuan asistennya, seperti yang sering diduga.

Demikian menurut pengelola museum National Gallery di London, Inggris, Rabu 14 Juli 2010. Museum itu mengerahkan tim untuk memugar lukisan Virgin of the Rocks, yang membutuhkan waktu selama 18 bulan.

Pemugaran itu diantaranya membersihkan lapisan pernis pada lukisan yang kualitasnya sudah jauh menurun sejak terakhir dipugar di penghujung dekade 1940-an sehingga membuat lukisan terlihat buram.

Pembersihan pernis lama tersebut memungkinkan para pakar untuk melihat lebih dekat goresan-goresan asli da Vinci melalui kuas. Pembersihan itu mengungkapkan gaya melukis da Vinci, terutama di bagian-bagian yang gelap. Ini memberi kesan bahwa da Vinci membuat goresan-goresan yang khas pada gambar bebatuan.

Restorasi itu juga menegaskan bahwa da Vinci tampaknya melukis sendirian dan sengaja membuatnya tidak selesai.

Proyek pemugaran menunjukkan adanya bekas sketsa tangan pada gambar malaikat hingga gambar kepala tokoh-tokoh utama di lukisan itu. Ini konsisten dengan karya-karya da Vinci lainnya.

Dikenal sebagai "perfeksionis sejati," da Vinci diduga meninggalkan lukisan itu dalam keadaan belum selesai karena saat itu dia berharap bisa menyelesaikannya di lain waktu. Demikian ungkap juru bicara museum, Thomas Almeroth-Williams.

Di masa lampau, para cendekia yakin bahwa da Vinci dibantu oleh sejumlah asisten saat mengerjakan Virgin of the Rocks. Ini berdasarkan asumsi adanya guratan-guratan yang terlihat berbeda.

Lukisan itu diduga dibuat antara 1491 hingga 1508. Pada 2005, menggunakan teknologi infra merah, para pakar menemukan dua bentuk sketsa yang tersembunyi di bawah permukaan lukisan. Bentuk yang satu tidak pernah dilukis, sedangkan yang lain mengungkapkan bahwa da Vinci berulang kali berubah pikiran atas subyek yang ingin dia gambar.

Da Vinci Code

The Da Vinci Code adalah sebuah novel karangan Dan Brown seorang penulis Amerika dan diterbitkan pada 2003 oleh Doubleday Fiction . Buku ini adalah salah satu buku terlaris di dunia dengan 36 juta eksemplar (hingga Agustus 2005) dan telah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa, termasuk Indonesia. Di Indonesia diterbitkan oleh penerbit Serambi Ilmu Semesta pada tahun 2004.

Menggabungkan gaya detektif, thriller dan teori konspirasi, novel ini telah membantu mempopulerkan perhatian terhadap sebuah teori-teori tentang legenda Piala Suci (Holy Grail) dan peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen - teori-teori yang oleh Kristen dipertimbangkan sebagai ajaran sesat dan telah dikritik sebagai sejarah yang tidak akurat.

Buku ini adalah bagian kedua dari trilogi yang dimulai Dan Brown dengan novel Malaikat dan Iblis (Angels and Demons) pada tahun 2000, di mana diperkenalkan karakter Robert Langdon. Pada November 2004, Random House menerbitkan "Edisi Spesial Ilustrasi", dengan 160 ilustrasi yang berselingan dengan teks.
Buku ini dibuka dengan pengakuan Dan Brown bahwa "Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia dalam novel ini adalah akurat," walaupun klaim ini diperdebatkan oleh para sarjana akademisi dalam diskusi-diskusi.

Dalam buku fiksi Dan Brown yang sangat terkenal, “The Da Vinci Code” (2003), lukisan The Last Supper, dikatakan mengandung misteri terbesar dalam sejarah umat Kristen yang dijaga ketat, bahkan dengan nyawa para pelindungnya selama beribu-ribu tahun.
Leonardo banyak menghasilkan karya seni dan berbagai desain yang menakjubkan lainnya sebelum meninggal pada 2 Mei 1519. Hingga sekarang, bahkan Einstein dan Isaac Newton pun dianggap tidak sanggup menyamai kegeniusan Leonardo da Vinci.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar